Artikel Terkait

Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

The Fly Mirip U2, Apa Kata Vokalis?

The Fly Mirip U2, Apa Kata Vokalis?


The Fly

JAKARTA - Band rock The Fly yang bangkit kembali dengan meluncurkan single “Bercahaya”, di mana posisi Kin Aulia yang sebelumnya berada di posisi gitaris dan backing vokal, kini menjadi vokalis utama.

Sejak awal kemunculan mereka dengan debut album bertajuk Agustus 1997 (1997), pendengar musik yang tahu kelompok band asal Irlandia, U2 pasti membanding-bandingkan dengan The Fly. Terutama vokalis Bjah saat itu, tarik ulur vokalnya seperti dimirip-miripkan dengan vokalis U2, Bono.

Apalagi, lagu “Terbang” yang berada di album self titled yang rilis pada 2001, intro dentingan piano mengingatkan pada lagu U2, “With or Without You”.

Kin pun tak menampik bandnya memang terpengaruh musiknya oleh band legendaris yang berdiri pada 1976 itu.

“Gue sejak sekolah itu sudah dengerin musiknya U2. Lalu bikin band cover lagu-lagu U2 sampai band kita ini memang dikenal, mungkin satu-satunya band yang bawain lagu U2,” kenang Kin saat diwawancarai Okezone, belum lama ini.

Dia belum selesai berbicara, “Dulu kan zamannya musik underground, kalau yang lain tampil pada dekil, lusuh. Kita doang yang tampil necis, kayak Bono gitu lah.”

Namun, Kin tak ingin bandnya ini selalu diidentikan dengan U2. Dia dengan tegas musik The Fly jelas jauh berbeda dengan U2.

“The Fly tidak selalu seperti U2. Band The Temper Trap sama Coldplay saja musiknya terpengaruh sama U2. Bahkan Coldplay terang-terangan ingin seperti U2,” ujarnya.

Eh, ada lagu loh band yang kini diawaki oleh Kin Aulia (vokal, gitar), Adith (keyboard), dan Levy (bas) ada unsur U2-nya. Nama The Fly sendiri merupakan salah satu judul lagu U2 masuk dalam album Achtung Baby yang rilis pada 18 November 1991.



Sumber : music.okezone.com

The Fly Mirip U2, Apa Kata Vokalis?

The Fly Mirip U2, Apa Kata Vokalis?


The Fly

JAKARTA - Band rock The Fly yang bangkit kembali dengan meluncurkan single “Bercahaya”, di mana posisi Kin Aulia yang sebelumnya berada di posisi gitaris dan backing vokal, kini menjadi vokalis utama.

Sejak awal kemunculan mereka dengan debut album bertajuk Agustus 1997 (1997), pendengar musik yang tahu kelompok band asal Irlandia, U2 pasti membanding-bandingkan dengan The Fly. Terutama vokalis Bjah saat itu, tarik ulur vokalnya seperti dimirip-miripkan dengan vokalis U2, Bono.

Apalagi, lagu “Terbang” yang berada di album self titled yang rilis pada 2001, intro dentingan piano mengingatkan pada lagu U2, “With or Without You”.

Kin pun tak menampik bandnya memang terpengaruh musiknya oleh band legendaris yang berdiri pada 1976 itu.

“Gue sejak sekolah itu sudah dengerin musiknya U2. Lalu bikin band cover lagu-lagu U2 sampai band kita ini memang dikenal, mungkin satu-satunya band yang bawain lagu U2,” kenang Kin saat diwawancarai Okezone, belum lama ini.

Dia belum selesai berbicara, “Dulu kan zamannya musik underground, kalau yang lain tampil pada dekil, lusuh. Kita doang yang tampil necis, kayak Bono gitu lah.”

Namun, Kin tak ingin bandnya ini selalu diidentikan dengan U2. Dia dengan tegas musik The Fly jelas jauh berbeda dengan U2.

“The Fly tidak selalu seperti U2. Band The Temper Trap sama Coldplay saja musiknya terpengaruh sama U2. Bahkan Coldplay terang-terangan ingin seperti U2,” ujarnya.

Eh, ada lagu loh band yang kini diawaki oleh Kin Aulia (vokal, gitar), Adith (keyboard), dan Levy (bas) ada unsur U2-nya. Nama The Fly sendiri merupakan salah satu judul lagu U2 masuk dalam album Achtung Baby yang rilis pada 18 November 1991.



Sumber : music.okezone.com

Jakarta Panas tau kenapa?

FGroup Indonesia, FGroup, Berita Terbaru, Berita, Jakarta, Panas, Sebab
Ilustrasi Panas
Meskipun saat ini masih dalam rentang musim penghujan yang umumnya berlangsung dari November - Maret 2013. Namun, kondisi cuaca di Jakarta saat ini terasa panas.

Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), menjelaskan bahwa terik matahari yang begitu menyengat disebabkan karena posisi Matahari berada di atas khatulistiwa dan gelombang Madden–Julian oscillation (MJO).

Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), Tri Handoko Seto kepada Okezone, Rabu (20/3/2013) mengatakan bahwa saat ini masih musim hujan, tetapi dalam musim hujan ini terdapat MJO.

"Di wilayah Indonesia pada umumnya, khususnya Jakarta, kondisi pertumbuhan awan berkurang. Akan tetapi akan meningkat lagi pada kira-kira minggu terakhir April," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa MJO atau fenomena ostilasi ini hanya berlangsung sekira 45 hari, di mana pada periode ini bisa memunculkan banyak hujan atau sebaliknya. "Suatu wilayah puncaknya bisa 2 minggu. Meskipun musim hujan, kalau terdapat ostilasi ini, maka pertumbuhan awan hujan bisa berkurang," terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, peningkatan awan saat ini diprediksi akan berkurang, "Namun demikian, ini harusnya sudah masuk pancaroba. Ciri-cirinya, sudah banyak hujan, namun di siang terik, siang sampai sore tiba-tiba ada mendung yang gelap, hujan deras tetapi tidak sampai berjam-jam. Pola-pola musim pancaroba, umumnya akhir Maret sampai April," jelasnya.

Garis Khatulistiwa
Di Indonesia bagian selatan, seperti Jawa, Bali, NTT, Sumatera Selatan, musim penghujan umumnya terjadi pada November sampai dengan Maret atau Oktober sampai April.

Tri mengatakan, puncak musim hujan terjadi pada Desember sampai Maret. Maret bisa muncul pancaroba, sedangkan Juli atau Agustus masuk kemarau. Pancaroba merupakan transisi dari dua musim.

Thomas Djamaluddin dari Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menjelakan bahwa MJO merupakan periodisitas aktivitas konveksi pembentukan awan. "Ada fase sangat aktif dan fase tidak aktif," imbuhnya.

Yang menyebabkan matahari menjadi sangat terik di Jakarta ialah, terdapat awan konveksi, di mana pada kondisi ini akan menimbulkan pemanasan yang lebih efektif. "Ditambah posisi matahari ada di ekuator (garis khatulistiwa), pancaran matahari tegak lurus dan pemanasan lebih efektif," jelas Thomas

Sumber: Okezone.com

Jakarta Panas tau kenapa?

FGroup Indonesia, FGroup, Berita Terbaru, Berita, Jakarta, Panas, Sebab
Ilustrasi Panas
Meskipun saat ini masih dalam rentang musim penghujan yang umumnya berlangsung dari November - Maret 2013. Namun, kondisi cuaca di Jakarta saat ini terasa panas.

Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), menjelaskan bahwa terik matahari yang begitu menyengat disebabkan karena posisi Matahari berada di atas khatulistiwa dan gelombang Madden–Julian oscillation (MJO).

Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), Tri Handoko Seto kepada Okezone, Rabu (20/3/2013) mengatakan bahwa saat ini masih musim hujan, tetapi dalam musim hujan ini terdapat MJO.

"Di wilayah Indonesia pada umumnya, khususnya Jakarta, kondisi pertumbuhan awan berkurang. Akan tetapi akan meningkat lagi pada kira-kira minggu terakhir April," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa MJO atau fenomena ostilasi ini hanya berlangsung sekira 45 hari, di mana pada periode ini bisa memunculkan banyak hujan atau sebaliknya. "Suatu wilayah puncaknya bisa 2 minggu. Meskipun musim hujan, kalau terdapat ostilasi ini, maka pertumbuhan awan hujan bisa berkurang," terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, peningkatan awan saat ini diprediksi akan berkurang, "Namun demikian, ini harusnya sudah masuk pancaroba. Ciri-cirinya, sudah banyak hujan, namun di siang terik, siang sampai sore tiba-tiba ada mendung yang gelap, hujan deras tetapi tidak sampai berjam-jam. Pola-pola musim pancaroba, umumnya akhir Maret sampai April," jelasnya.

Garis Khatulistiwa
Di Indonesia bagian selatan, seperti Jawa, Bali, NTT, Sumatera Selatan, musim penghujan umumnya terjadi pada November sampai dengan Maret atau Oktober sampai April.

Tri mengatakan, puncak musim hujan terjadi pada Desember sampai Maret. Maret bisa muncul pancaroba, sedangkan Juli atau Agustus masuk kemarau. Pancaroba merupakan transisi dari dua musim.

Thomas Djamaluddin dari Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menjelakan bahwa MJO merupakan periodisitas aktivitas konveksi pembentukan awan. "Ada fase sangat aktif dan fase tidak aktif," imbuhnya.

Yang menyebabkan matahari menjadi sangat terik di Jakarta ialah, terdapat awan konveksi, di mana pada kondisi ini akan menimbulkan pemanasan yang lebih efektif. "Ditambah posisi matahari ada di ekuator (garis khatulistiwa), pancaran matahari tegak lurus dan pemanasan lebih efektif," jelas Thomas

Sumber: Okezone.com

Sponsor

Sponsor

Sponsor

Sponsor

Sponsor


Situs Pilihan - Dunia-Asmaradana.com

SA Link Directory

Sponsor

Sponsor

100% Backlink Indonesia
© 2013-2015 FGroup Indonesia. Semua logo beserta data yang tercantum di dalam website ini mengacu kepada sumber terpercaya dan juga dengan jalinan kerjasama Tim (CV) Zephyr
© 2013 FGroup Indonesia. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
.
back to top